The way Agus simply sees the world spatially

Republik intimidasi

Belum hilang ingatanku, eh, dari ingatanku beberapa saat yang lalu ada berita baik di media cetak maupun elektronik tentang kekerasan yang dilakukan oleh guru SD terhadap murid-muridnya karena tidak mengerjakan PR. Tadinya aku anggap hal tersebut hanyalah “kasus” atau deviasi yang sangat kecil kemungkinan terjadinya di jaman ini, eh kok saat ini muncul berita yang sama. Hanya karena tidak lancar membaca, seorang murid SD disinyalir telah menjadi korban kekerasan gurunya.

clipped from www.kompas.com

Korban Kekerasan Guru Pindah

Selasa, 16 Desember 2008 | 06:25 WIB
JAKARTA, SELASA — Slamet Ramadhani (8), murid kelas III SDN Pondok Bambu 05 Petang, Jakarta Timur, yang dilaporkan menjadi korban kekerasan guru, dipindah ke SDN Pondok Bambu 01 Pagi. Dalam penyelidikan kasus penganiayaan itu, dua murid teman sekelas Slamet sudah dimintai keterangan oleh polisi.
Seperti diberitakan (Warta Kota, 13/12), Pilem Surbakti, guru kelas III SDN Pondok Bambu 05 Petang, dilaporkan ke polisi karena menganiaya Slamet hingga dua buah gigi atas patah dan bibir bawah sobek. Slamet dianiaya karena tidak lancar membaca pelajaran bahasa Indonesia.
blog it

Kalau memang hal tersebut benar-benar terjadi, dan mungkin ada kasus lain yang belum terungkap saja, pertanyaannya adalah: “Mau jadi apa negara ini?”. Kalau sejak kecil dididik dengan kekerasan, pasti di saat dewasa nanti kekerasan akan menjadi hal yang biasa. Lha kalau korban-korban kekerasan ini besok jadi pemimpin negara ini, dan misalnya dampak kekerasan tersebut masih membekas di hati mereka (semoga saja tidak), bayangkan saja apa yang akan mereka perbuat.

Kalau memang hal tersebut benar-benar terjadi, dan mungkin ada kasus lain yang belum terungkap saja, pertanyaannya adalah: “Mau jadi apa negara ini?”. Kalau sejak kecil dididik dengan kekerasan, pasti di saat dewasa nanti kekerasan akan menjadi hal yang biasa. Lha kalau korban-korban kekerasan ini besok jadi pemimpin negara ini, dan misalnya dampak kekerasan tersebut masih membekas di hati mereka (semoga saja tidak), bayangkan saja apa yang akan mereka perbuat.

Bicara tentang kekerasan, dalam level yang berbeda pernahkan anda membaca suatu baliho, spanduk, atau apapun yang berisi pesan, himbauan dari suatu institusi negara yang berpola seperti, misalnya:

“Untuk menghindari pemutusan rampung sambungan listrik anda, bayarlah tagihan tepat pada waktunya”

Adakah sesuatu yang “ganjil” yang kita rasakan? Atau hal itu sudah merupakan hal yang biasa bagi kita? Kalau yang kedua yang kita rasakan, menurutku, memang kita sudah terbiasa dengan kekerasan. Halah … opo hubungane yo?

Gambar: Kompas

Translate to English (the translation quality highly depends on my Indonesian style) Translate to English (the translation quality highly depends on my Indonesian style)

  • Share/Bookmark

Sorry, no related posts but you might be interested to these posts


Tagged as: ,

Quote selected text

 

Get Adobe Flash playerPlugin by wpburn.com wordpress themes