Privasi dalam aplikasi jejaring sosial berbasis lokasi (1)
Saat ini “demam” Facebook sedang melanda masyarakat kita. Ada beberapa kemungkinan penyebab mengapa hal tersebut bisa terjadi. Pertama, karena ikut-ikutan. Ketika media mengangkat fenomena ini, orang menjadi tertarik untuk mendapatkan manfaat dari Facebook, walaupun tidak sedikit yang hanya didorong oleh keinginan untuk ‘pernah’ dan tahu saja. Kedua, karena butuh. Entah itu untuk membangun network, mendapat informasi, mencari teman, ingin sharing, ingin dikenal orang, atau bahkan untuk mendukung pekerjaan. Kita tentu masih ingat bagaimana Obama dapat memanfaatkan aplikasi ini menjadi suatu wahana kampanye yang sangat efektif . Diakui atau tidak, menurutku Obama turut andil dalam mempopulerkan Facebook. Dalam skala nasional, silakan baca berita ini.
Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa mereka butuh Facebook? Walaupun menurut situs Alexa, suatu situs informasi web global, Facebook menduduki peringkat lima sebagai situs yang paling banyak diakses dan peringkat satu khusus untuk situs social network, mungkin pertanyaan ini tidak tepat karena sebenarnya banyak sekali aplikasi sejenis yang ada di internet. Pada intinya aplikasi-aplikasi tersebut ditujukan untuk membangun komunitas online bagi orang-orang yang mempunyai interest atau aktivitas yang sama, atau untuk orang-orang yang tertarik untuk mengetahui interest dan aktivitas orang lain (teman). Singkatnya aplikasi-aplikasi tersebut menyediakan jasa bagi orang-orang untuk bersosialisasi. Akhirnya, pertanyaannya akan lebih tepat jika menjadi mengapa kita butuh social networking, bersosialisasi diri?
Menurut sebuah penelitian, orang yang menghindari kontak sosial, 40% lebih rentan terhadap serangan jantung dan stroke. Nah lho … apakah hal ini yang menjadi alasan kita untuk ber-Facebook ria? He.. he. sepertinya kok kita tidak sampai seteoritis itu. Iseng dan biar gaul mungkin menjadi alasan yang lebih masuk akal. Dalam kalimat yang “lebih sopan”, alasan aplikasi jejaring sosial menjadi trend adalah karena aplikasi-aplikasi tersebut sejalan dengan sifat dan fitrah manusia yang tidak bisa hidup sendiri dan individualis. Manusia selalu membutuhkan manusia lain, homo social.
Dan jika dahulu aku
pernah mengatakan bahwa data spasial sudah dimanfaatkan dalam banyak aplikasi yang mendukung aktivitas sehari-hari, saat ini sudah banyak sekali aplikasi social network yang menggunakan data lokasi sebagai elemen penting di dalamnya. Mulai dari aplikasi yang murni berbasis lokasi seperti Fire Eagle, IRL Connect, dan banyak lainnya (terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Contoh-contohnya dapat dilihat di sini), ataupun aplikasi-aplikasi add on yang diintegrasikan ke dalam aplikasi social network seperti Footprint, Brightkite, dan lain-lain. Tentunya jangan lupakan situs-situs photo sharing seperti Picassa dan Flickr seperti yang pernah aku singgung.
Lalu, isu-isu apakah yang harus diperhatikan oleh penyedia jasa aplikasi location based social network ini? Ketika seseorang sudah kecanduan ber-social network, tanpa sadar dia akan selalu tune in di situs tersebut dan sering meng-update statusnya. Dan jika dia menggunakan aplikasi yang berbasis lokasi, atau menyertakan informasi lokasi, dia juga akan sering meng-update posisi dimana dia berada. Jikalau aplikasi tersebut terhubung dengan mobile GPS, maka tidak mustahil jika secara otomatis handphone yang dia gunakan akan secara periodik dan real time mengirimkan lokasi dimana dia berada ke server aplikasi yang akan menyebarkan informasi posisi tersebut ke jaringan yang dia punya. Jika informasi lokasi tersebut dikumpulkan dan dianalisis, tentu saja mudah bukan bagi orang lain untuk mengetahui pola kegiatan orang tersebut?
Gambar: kmedge
Translate to English (the translation quality highly depends on my Indonesian style)




