Spatial thinking
Seorang psikolog berpendapat bahwa spatial intelligence merupakan salah satu jenis intelegensia yang dapat dimiliki oleh seorang anak. Apabila seorang anak dianugerahi kelebihan dalam bidang ini, anak tersebut akan begitu menyukai gambar, teka-teki jigsaw, menghabiskan waktu luang untuk menggambar, bermain Leggo atau melamun. Dalam kaitan ini, walaupun sejak dulu pola pikir spasial telah diyakini sebagai salah satu jantung banyak penemuan besar di dunia ilmu pengetahuan, sebagai pondasi banyak aktivitas di kehidupan modern, dan telah menyatu dalam kehidupan sehari-hari, namun bahkan di negara maju pun perhatian terhadap pentingnya pengembangan pola pikir ini baru menjadi fokus di beberapa tahun belakangan ini. Selain itu sampai saat ini pola pikir spasial masih belum dikenal dengan baik dan belum diformalisasikan sebagaimana pola pikir matematik ataupun verbal.
Pola pikir spasial (spatial thinking) adalah suatu kombinasi konstruktif dari tiga elemen yaitu konsep tentang space, alat representasi, dan proses reasoning. Space menyediakan kerangka konseptual dan analitis dengannya data dapat diintegrasikan, direlasikan, dan distrukturisasikan ke dalam satu kesatuan utuh. Representasi, baik itu internal dan kognitif, eksternal dan grafis, linguistik, fisik, dan lain-lain, menyediakan bentuk-bentuk dimana informasi disimpan, dianalisa, dipahami, dan dikomunikasikan kepada yang lain. Proses reasoning menyediakan alat untuk manipulasi, interpretasi, dan menjelaskan informasi tersebut.
Berbeda dengan jenis intelegensia lainnya, pola pikir spasial dipercaya sebagai cara berpikir yang universal yang dapat diperoleh oleh semua orang dalam tingkat yang berbeda-beda. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pola pikir spasial merupakan gabungan antara konsep tentang space, alat representasi, dan proses reasoning. Hal tersebut tergantung pada pemahaman arti space dan pemanfaatan properti space (dimensi, kedekatan, jarak, kontinyuitas, dll) sebagai suatu kendaraan untuk menelaah problem, menemukan jawaban, dan menyampaikan solusi. Dengan memvisualisasikan hubungan di dalam struktur spasial, kita dapat mempersepsikan, mengingat, dan menganalisa properti objek dan hubungan antar objek. Kita dapat menggunakan berbagai model dan media (gambar, tulisan, video, dll) untuk menggambarkan, menjelaskan, dan mengkomunikasikan struktur, operasi, dan fungsi objek-objek tersebut beserta hubungan-hubungannya.
Pola pikir spasial tidak terbatas pada suatu domain ilmu pengetahuan tertentu, walaupun mungkin cabang-cabang ilmu seperti teknik, arsitek, fisika, kedokteran, dan biologi mempunyai karakteristik lebih di banding filosofi, administrasi bisnis, dan bahasa.
Catatan: disarikan dari berbagai sumber, utamanya dari Learning to Think Spatially: GIS as a Support System in the K-12 Curriculum.
Gambar: copingskills4kids
Translate to English (the translation quality highly depends on my Indonesian style)





Geotagged