Satu jam latihan berpikir spasial
Sering aku katakan dalam tulisan-tulisanku dahulu bahwa data spasial sudah menjadi salah satu kebutuhan karena manfaatnya bagi hampir semua segi kehidupan (silakan Anda browse sendiri tulisan yang aku maksud tersebut mengingat aku tidak bisa memberikan link-nya. Maklum …ngeblog lewat handphone). Pernah juga aku kutip pendapat ahli tentang pentingnya pola pikir spasial. Malam ini, untuk kesekian kalinya aku terpaksa pulang telat karena harus mengikuti rapat di Kantor. Daripada pulang suntuk, kuisi waktu perjalanan pulangku dengan “bergaya spasial”, mencari-cari fakta spasial tentang hal-hal di sekitarku. Biarin dikatakan kurang kerjaan, daripada makan hati.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 18.50 ketika aku melewati gerbang keluar kantor. Dengan jarak sekitar 300 m ke halte bis Komdak dimana aku akan menunggu bis jurusan rumah, aku perkirakan 10 menit adalah waktu yang cukup moderat untuk mencapai halte tersebut. Diingatanku, bis yang aku tunggu dijadwalkan akan berangkat jam 19.00 dari halte Ratu Plaza. Dengan kondisi lalu lintas Jakarta pada jam segitu, waktu optimis yang diperlukan untuk jarak sekitar 5 km adalah 15 menit. Dus masih ada waktu yang sama untuk beli air putih dan memperhatikan para commuter berebut bis.
Beberapa saat melangkah melewati beberapa gerombol calon penumpang menunggu bis, sekelompok pengamen, beberapa polisi yang sedang istirahat, akhirnya aku sampai di halte yang kutuju. Deduksi pertama adalah bahwa kelompok-kelompok yang aku sebutkan tadi ternyata mempunyai pola tertentu. Masing-masing mempumyai anchor point sebagai pusat dan alasan mengapa mereka berada di situ. Halte bis, warung kaki lima, dan pos polisi tampaknya menjadi determinan pola tersebut. Mengamati kemacetan Jl. Gatot Subroto di depanku, kemudian terlintas mengapa itu terjadi. Selain karena jumlah kendaraan yang begitu tinggi, kemungkinan besar kemacetan di Komdak disebabkan oleh terhalangnya arus lalu lintas di titik ini. Penempatan halte bis dan jembatan tepat setelah perempatan Semangi menyebabkan pemusatan penunggu bis yang memancing bis itu sendiri untuk menaikkan penumpang di daerah tersebut. Lokasi pintu tol beberapa meter setelahnya, juga menyebabkan antrian dan bahkan kecenderungan pengemudi dari arah Sudirman dan Plasa Semanggi yang akan masuk tol untuk memotong jalur. Terkait dengan landmark kedua, mengapa ada pusat perbelanjaan persis di perempatan Semanggi? Dilihat dari peruntukkannya, apakah bangunan ini sudah sesuai dengan zoningnya?
Bunyi klakson mobil yang melengking, mengalihkan perhatianku ke tengah jalan. Macet dan padat, namun sepertinya “insting” pengendara menyebabkan tidak ada kendaraan yang tabrakan. Dengan menyadari posisi relatif kendaraan masing-masing terhadap kendaraan pengguna jalan lain, para pengemudi seperti mematuhi etika berlalu lintas tak tertulis membentuk beberapa jalur antrian. Pola antrian ini tentu saja berpola garis, walaupun dengan tujuan masing-masing pengendara yang berbeda. Aku yakin, tujuan para pengguna jalan saat ini tersebar secara geografis baik di dalam wilayah DKI Jakarta sendiri maupun ke kota-kota di sekitar Jakarta: Depok, Bekasi, Bogor, Tangerang, dan lain-lain.
Jam menunjukkan angka 19.35 ketika bis yang aku tunggu muncul dan nampak dari kejauhan. Sebelum benar-benar berhenti dan membuka pintunya, secara sekilas dapat aku lihat beberapa kursi kosong di dalam bis tersebut. Lajur kanan kursi ketiga dari depan, satu kursi di baris berikutnya, dan mungkin beberapa kursi yang lain yang tidak berhasil aku identifikasi secara pasti. Berarti aku harus berebut masuk dari pintu depan. Run! Yup, akhirnya aku berhasil mendapatkan kursi di baris ketiga dari depan, lajur kanan, di sisi lorong bis (aisle), kira-kira 3-5 m dari pintu masuk depan. Bis pun melanjutkan perjalanan dengan merayap, berhenti di halte Pajak untuk menaikkan penumpang, dan … memotong jalur agar dapat memasukin jalan tol melalui gerbang di depan Kartika Chandra. Hmm… mengapa ya ahli ataupun desainer jalan tol kita suka menempatkan gerbang tol begitu dekat setelah halte bis?
Fly over Kuningan. Bisku agak tersendat ketika berada di atas fly over Kuningan. Ketika kuarahkan pandangan ke kanan kiri, yang nampak adalah pijar lampu-lampu kendaraan yang berupa titik-titik rapat saling menyambung membentuk pola garis sepanjang Jl. Rasuna Said dan Jl. Mampang Prapatan. Di sepanjang sisi jalan tersebut dan Jl. Gatot Subroto nampak bangunan-bangunan perkantoran menjulang tinggi membentuk batas imaginer dengan bangunan perumahan di belakangnya. Aku tidak tahu pasti apakah batas tersebut juga batas zoning dalam RUTRK daerah yang bersangkutan. Melewati fly over Kuningan, aku lihat arteri Jl. Gatot Subroto masih macet. Jika sebelum perempatan Kuningan macet disebabkan oleh menyempitnya jalan non fly over (”objek rebutan” pengendara yang akan ke Mampang, Rasuna Said, atau putar arah ke Semanggi), setelah fly over, sumber kemacetan adalah … pintu tol lagi. Pengguna jalan non fly over berebut ke kanan ke pintu tol, sementara banyak pengguna fly over yang akan mengambil jalur kiri. lagi-lagi… mengapa ya pintul tol harus selalu setelah pertigaan atau perempatan?
Wah, ternyata capek juga ngetik di handphone ya? Nanti saja aku teruskan di rumah aja deh …. *saved*
(Continued on PC) Melewati perempatan Pancoran ternyata kemacetan belum berkurang. Selain jumlah kendaraan dan tingkat ketertiban berlalu lintas banyak pengguna jalan yang rendah, jalan menyempit, pola jalan (letak pertigaan), peletakan halte bis, dan lokasi pintu tol sepertinya masih menjadi biang keladi kemacetan. Mendekati interchange Cawang, jalan tol yang aku lalui terpecah menjadi tiga arah, ke Tanjung Priok, Bogor, dan Bekasi. Dan seperti biasanya, laju kendaraan ke arah Bogor hampir selalu yang paling tersendat di titik ini. Karena penyempitan jalan dan pertemuan arus kendaraan dari arah Semanggi, Tanjung Priok, dan Cawang. Hmmm … mungkin dulu Bapak yang menggambar rencana Cawang interchange ini tidak tepat memprediksi arah perkembangan wilayah. Mungkin dulu tidak diduga kalau perkembangan wilayah di dormitory ataupun satellite towns-nya Jakarta secara otomatis akan berimbas pada kenaikan jumlah kendaraan sekaligus tingkat penggunaan jalan tol. Mungkin … embuh ah. Capek, ngantuk, … kok masih sempat-sempatnya berkhayal. Jam menunjukkan pukul 20.07.
Translate to English (the translation quality highly depends on my Indonesian style)




